Arsip Penulis

Kawasan Lawehan Penampehan

Posted: April 23, 2011 in Wisata

Lawehan adalah air terjun yang merupakan salah satu potensi wisata Kabupaten Tulungagung. Berada di Dusun Turi, Desa Geger, Kecamatan Sendang. ±25 km arah barat dari pusat kota Tulungagung, yang merupakan bagian dari Lereng Wilis dengan ketinggian ±1.200 m di atas permukaan air laut.

Untuk menuju lokasi harus berjalan kaki ±3 km melewati indahnya panorama perbukitan, dan sembilan kali menyeberangi sungai di hutan yang masih perawan. Karena khasnya jalan menuju obyek ini, yang naik turun, licin, curam dan menerobos semak belukar, maka sangat cocok bagi mereka yang suka tantangan dan pecinta alam. Apalagi di sekitar air terjun banyak tumbuh tanaman anggrek yang masih langka.

Menurut kepercayaan penduduk setempat, daerah ini dikuasai oleh Mbok Roro Dewi Gangga, Mbok Roro Cemethi, Mbok Roro Wilis, dan Mbok Roro Endang Sampur.

Penduduk setempat meyakini, Barang siapa yang mandi di air terjun ini akan sembuh dari penyakitnya.

Tidak jauh dari air terjun Lawehan terdapat Candi Penampehan yang berada di Desa Geger. Untuk sampai ke candi, bisa menggunakan kendaraan roda empat. Bangunan candi dilindungi oleh pohon Kalpataru. Selain itu juga terdapat Goa Tan Tek Sue dan perkebunan durian “Bajul” yang melengkapi daya tarik Kawasan Lawehan Penampehan.

Link: http://tulungagung.go.id/index.php/potensi-daerah/obyek-wisata/402-kawasan-lawehan-penampehan

Pantai Sidem

Posted: April 23, 2011 in Wisata

Pantai Sidem adalah salah satu perkampungan nelayan yang ada di Kabupaten Tulungagung. Sebenarnya merupakan terusan dari Pantai Popoh. Pantai in sangat cocok untuk Anda yang menyukai keindahan dan keheningan.

Lokasi pantai ini hanya 2 km dari Pantai Popoh, di sini Anda akan dapat menyaksikan para nelayan beraktivitas. Selain itu, wisatawan dapat menemukan industri rumah tangga dengan produk yang dihasilkan seperti berbagai ikan asin dan terasi yang telah dikemas rapi, serta siap untuk dibawa pulang sebagai buah tangan

Dari kampung nelayan di Pantai Sidem ini pula, dapat dinikmati PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) dengan kemampuan sekitar 30 Mega Watt yang diresmikan oleh Bapak Menteri Pertambangan dan Energi, alm Ida Bagus Sudjana, pada tahun 1994. Kedua lokasi wisata pantai ini dapat dicapai melalui jalan darat yang telah beraspal dengan baik dan hanya memerlukan waktu tempuh sekitar 30 menit dari Kota Tulungagung.

Link: http://tulungagung.go.id/index.php/potensi-daerah/obyek-wisata/404-pantai-sidem

Candi Penampehan

Posted: April 23, 2011 in Wisata

Candi Penampehan yang terletak dilereng Gunung Wilis, Dusun Turi Desa Geger kecamatan Sendang Kabupaten Tulungagung merupakan candi Hindu kuno peninggalan kerajaan Mataram kuno dibangun pada tahun saka 820 atau 898 Masehi. Arti penampehan itu sendiri konon berasal dari Bahasa Jawa yang berarti antara penolakan dan penerimaan yang bersyarat demikian tafsirnya.

Candi penampehan merupakan candi pemujaan dengan tiga tahapan (teras) yang dipersembahkan untuk memuja Dewa Siwa, dimana konon peresmian candi ini dengan mengadakan pagelaran Wayang (ringgit). Selanjutnya era demi era pergolakan perebutan kekuasaan dan politik di tanah jawa berganti mulai dari kerajaan Mataram Kuno, Kediri, Singosari, hingga Majapahit sekitar abad 9-14 M, candi ini terus digunakan untuk bertemu dan memuja Tuhan, Sang Hyang Wenang.

Di dalam kompleks Candi terdapat beberapa Arca yaitu arca Siwa dan Dwarapala, tetapi karena ulah Manusia yang tidak mencintai dan menghargai Heritage dan legacy dari nenek moyang beberapa arca telah hilang dan rusak. Untuk mengamankan beberapa arca yang tersisa yaitu arca siwa sekarang diletakan di museum situs Purbakala Majapahit Trowulan Jawa timur.

Selain Arca terdapat sebuah prasasti kuno yaitu Prasasti Tinulat tertulis dengan menggunakan huruf Pallawa dengan stempel berbentuk lingkaran di bagian atas prasasti. Berdasarkan Penuturan Bu Winarti umur 44 Tahun, juru kunci Candi Penampehan, prasasti itu berkisah tentang Nama-nama raja Balitung, serta seorang yang bernama Mahesa lalatan, siapa dia? Sejarah lisan maupun artefak belum bisa menguaknya. Serta seorang putri yang konon bernama Putri Kilisuci dari Kerajaan Kediri. Selain menyebutkan nama, prasasti itu juga memberikan informasi tentang Catur Asrama yaitu sistem sosial masyarakat era itu di mana pengklasifikasian masyarakat (stratifikasi) berdasarkan kasta dalam agama Hindu yaitu Brahmana, Satria, Vaisya dan Sudra.

Masih di kompleks candi Penampehan terdapat 2 kolam kecil yang bernama Samudera Mantana (pemutaran air samudera), di mana menurut pengamatan empiris selama berpuluh-puluh oleh Bu Winarti, 2 kolam tersebut merupakan indikator keadaan air di Pulau Jawa. Kolam yang sebelah utara merupakan indikator keadaan air di Pulau Jawa bagian utara dan Kolam sebelah selatan merupakan indikator keadaan air di Pulau Jawa bagian selatan. Berdasarkan penuturan Bu Winarti, Apabila sumber air di kedua kolam tersebut kering berarti keadaan air dibawah menderita kekeringan, sebaliknya bila kedua atau salah satu kolam tersebut penuh air berarti keadaan air di bawah sedang banjir. (Sari Oktafiana)

Link: http://tulungagung.go.id/index.php/potensi-daerah/obyek-wisata/407-candi-penampehan

Pantai Coro

Posted: April 23, 2011 in Wisata

Pantai Coro Apa yang menarik dari pantai ini? Pantai yang memiliki panjang sekitar 400 meter, pasirnya berwarna putih, bersih, dan lembut. Menjadikan Pantai Coro tidak kalah dengan pantai lain yang ada di Jawa Timur. Selain itu daya tarik lain pada pantai yang berjarak sekitar 1,5 km timur padepokan “Retjo Sewu” adalah keberadaannya yang masih natural, belum banyak tergarap, serta ombak pantai juga tidak terlalu besar.

Lebih dari itu air laut pantai sangat jernih sehingga permukaan dasar laut bisa dilihat dengan mata telanjang, seperti semua karang dan tumbuhan laut.

Di pantai yang menurut cerita dulunya banyak hewan coro (kecoak), juga banyak sekali dijumpai batu karang, tumbuhan dan hewan laut. Pengunjung bisa melihat dengan jelas tumbuhan dan hewan laut hidup di batu-batu karang di sepanjang pantai yang berbentuk teluk tersebut. Dan semua itu akan lebih jelas terlihat ketika air laut mulai surut.

Bagi mereka yang suka mengoleksi aneka kulit kerang bisa datang ke tempat ini, karena banyak sekali jenis kulit kerang yang terdampar di bibir pantai, begitu juga dengan batu karang yang terdapat di hamparan pasir putih yang luas.

Link: http://tulungagung.go.id/index.php/potensi-daerah/obyek-wisata/406-pantai-coro

Pantai Klathak

Posted: April 23, 2011 in Wisata

Pantai Klathak adalah salah satu pantai kebanggaan Kabupaten Tulungagung. Pantai ini memiliki ombak yang fantastis dengan angin laut yang lembut. Para pengunjung dapat melakukan aktivitas laut di sini, seperti outbound, memancing, mandi matahari, olah raga, dll. Ada juga pedagang makanan dan minuman di sekitar pantai.

Berada di wilayah Desa Keboireng Kecamatan Besuki, pantai ini masih murni dan sangat alami, pemandangannya juga sangat indah. Akses ke pantai ini belum diaspal, sehingga hanya mengandalkan jalan makadam, sulit dilalui apalagi ketika musim hujan. Tapi, ketika sampai ke tujuan, akan membuat Anda enggan untuk meninggalkan pantai yang satu ini. Kunjungi dan menikmati Pantai Klathak di Kabupaten Tulungagung bersama keluarga maupun relasi Anda.

Link: http://tulungagung.go.id/index.php/potensi-daerah/obyek-wisata/408-pantai-klathak

Pantai Sine

Posted: April 23, 2011 in Wisata

Pantai yang terletak di Desa Kalibatur Kecamatan Kalidawir atau sekitar kurang lebih 35 km kearah selatan dari kota Tulungagung ini mempunyai keindahan dan panorama alam yang begitu indah. Pantai Sine ini merupakan pantai bebas dengan ombak yang cukup besar selain itu Pantai Sine ini merupakan pantai alam berbentuk teluk di pesisir selatan Kabupaten Tulungagung.

Di sebelah utara terdapat tebing dengan pancuran alami yang mana airnya berasal dari mata air di atasnya dan di sebelah selatan Pantai Sine terdapat hutan yang masih terlindungi dan keberadaan pasar ikan tradisional yang pastilah menambah keindahan Pantai Sine. Walaupun menghabiskan waktu yang lumayan lama dari pusat kota tetapi perjalanan menuju wisata Pantai ini sangatlah menyenangkan karena melewati pegunungan dan perbukitan yang sangat indah.

Selain menyajikan keindahan alami Pantai Sine ini juga menyajikan keragaman budaya lokal masyarakat sekitar, misalnya kesenian wayang kulit yang dipertunjukkan setiap tanggal satu suro, dan ada juga prosesi larung sesaji yang berguna untuk menangkal mara bahaya ataupun acara mencuci atau memandikan gaman seperti keris dan tombak dari para sesepuh masyarakat.

Link: http://tulungagung.go.id/index.php/potensi-daerah/obyek-wisata/409-pantai-sine

Pantai Popoh

Posted: April 23, 2011 in Wisata

Pantai Popoh adalah obyek wisata pantai yang terletak di pesisir Samudera Hindia Kabupaten Tulungagung. Pantai ini merupakan salah satu obyek wisata andalan Tulungagung. Kawasan Popoh berada di ujung timur Pegunungan Kidul.

Pantai popoh merupakan pantai yang telah dikembangkan dengan baik oleh P.R. Retjo Pentung. Akses menuju pantai popoh dapat ditempuh dengan aman dan nyaman melalui jalan aspal. Lokasinya kurang lebih 27 km dari pusat kota Tulungagung menuju arah pantai selatan.

Dalam perjalanan menuju objek wisata Pantai Indah Popoh ini para pelancong dapat mengunjungi sentra kerajinan batu onyx yang merupakan salah satu produk unggulan Kabupaten Tulungagung.

Pantai ini berbentuk teluk sehingga suasana tercipta suasana khas di dalamnya. Deburan ombak Laut Selatan yang penuh pesona magis, angin laut yang tidak begitu kuat, karang payung yang menyembul dari bawah laut, keindahan gunung disekitar teluk, dan dan “Reco Sewu” telah menjadi daya tarik utama pantai ini.

Di sekitar Pantai Popoh Indah juga terdapat penginapan yang langsung menghadap laut, selain itu juga ada pasar ikan, berbagai macam penjual souvenir, kebun binatang, dan taman bermain.

Link: http://tulungagung.go.id/index.php/potensi-daerah/obyek-wisata/405-pantai-popoh

Candi Boyolangu

Posted: April 23, 2011 in Wisata

Candi  Boyolangu merupakan kompleks percandian yang terdiri dari tiga bangunan  perwara. Masing-masing bangunan menghadap ke barat. Candi ini ditemukan  kembali oleh masyarakat pada tahun 1914 dalam timbunan tanah. Bangunan  pertama disebut dengan bangunan induk perwara, karena bangunan ini  berukuran lebih besar dibanding dengan bangunan kedua dan bangunan  lainnya. Letak bangunan ini di tengah bangunan lainnya.

Candi  Boyolangu berada di tengah pemukiman penduduk di wilayah Dusun Dadapan,  Desa Boyolangu, kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulunaggung, Wilayah  Provinsi Jawa Timur.

Bangunan  induk perwara terdiri dari dua teras berundak yang hanya tinggal bagian  kakinya. Bentuk bangunan berdenah bujur sangkar dengan panjang dan  lebar 11,40 m dengan sisa ketinggian kurang lebih 2,30 m (dengan  mengambil sisi selatan).

Di  dalam bangunan ini terdapat sebuah sempalan arca wanita Budha dan  beberapa umpak berukuran besar. Kondisi arca sudah rusak, namun masih  terlihat baik. Bagian kepala dan anggota tangan arca hilang karena  pengrusakan. Oleh para ahli arca ini dikenal dengan nama Gayatri.  Gayatri adalah salah satu dari keempat anak raja Kertanegara (Singosari)  yang kemudian diwakili Raden Wijaya (Majapahit). Pada masa hidupnya,  Gayatri terkenal sebagai pendeta wanita Budha (Bhiksumi) kerajaan  Majapahit dengan gelar Rajapadmi.

Bentuk  arca menggambarkan perwujudan Dhyani budha Wairocana dengan duduk diatas  padmasanan (singgasana) berhias daun teratai. Sikap tangan arca adalah  Dharmacakramudra (mengajar). Badan arca dan padmasana tertatah halus  dengan gaya Majapahit. Sedangkan jumlah umpak pada bangunan perwara ini  ada tujuh buah dengan dua umpak berangka tahun 1291 C (1369 M) dan 1322 C  (1389 M). Dengan adanya umpak-umpak tersebut diduga bangunan Candi  Boyolangu dahulunya memakai atap, mengingat fungsi umpak pada umumnya  sebagai penyangga tiang bangunan.

Berdasarkan  angka tahun pada kedua umpak bangunan induk (1369 M dan 1389 M) maka  diduga Candi Boyolangu dibangun pada zaman Majapahit masa pemerintahan  Raja Hayam Wuruk (1359 M s/d 1389 M). Sedangkan sifat, nama, dan tempat  bagunan disebutkan dalam Kitab Kesusastraan Nagarakertagama karangan Mpu  Prapanca (masa Majapahit pemerintahan Raja Hayam Wuruk) bahwa di  Boyolangu terdapat bangunan suci (candi) beragama Budha dengan nama  Prajnaparamitapuri.

Bangunan  perwara yang kedua berada di selatan bangunan induk. Keadaan bangunan  hanya tinggal bagian kaki dan berdenah bujursangkar dengan ukuran  panjang dan lebar 5,80 m. Adapun bangunan perwara ketiga berada di utara  bangunan induk perwara. Kondisi bangunan sudah runruh dan berdenah  bujur sangkar dengan ukuran panjang dan lebar masing-masing 5,80 m.

[B]Latar Belakang Sejarah[/B]

Candi  ini ditemukan kembali pada tahun 1914, yang menurut informasi sejarah  dibangun pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1359 s/d 1389 M).  Sumber lainnya menyebutkan bahwa candi ini merupakan penyimpanan abu  jenazah Gayatri yang bergelar Rajapadmi.

Berdasarkan  pada angka tahun terdapat pada bangunan induk diketahui bahwa candi ini  dibangun pada zaman Majapahit, yaitu sekitar abad XIV. Pembangunannya  dikaitkan dengan tokoh wanita yang diduga adalah Gayatri. Menurut kitab  Nagarakertagama bangunan ini didirikan pada masa Pemerintahan Hayam  Wuruk (1359 s/d 1389 M) dengan nama Prajnaparamitaputri (Slamet Mulyana,  1979).

Menurut  keterangan para ahli bangunan ini merupakan tempat penyimpanan abu  jenazah Gayatri setelah jenazahnya dibakar di lokasi lain yang  berdekatan.

Situs  ini berada pada dataran yang berjarak hanya sekitar 6 km di sebelah  selatan kota Tulungagung. Di sekitarnya cukup banyak situs lain yang  dapat dikatakan se-zaman. Sekitar 1 km di sebelah timurnya terdapat  Candi Sanggrahan yang menurut cerita merupakan tempat persinggahan pada  saat menuju Candi Boyolangu atau Candi Gayatri.

[B]Latar Belakang Budaya[/B]

Situs  ini dahulu berfungsi sebagai tempat penyimpanan abu jenazah Gayatri dan  sekaligus tempat pemujaan masyarakat pendukungnya dalam pemuliaan  tersebut Gayatri diwujudkan sebagai Dyani Budha Wairocana dengan sikap  Dharmacakramuda.

Hal  tersebut didukung dengan temuan berupa sumuran dan arca perwujudan  Majapahit. Melihat pada Arca Pantheon Dewa dan wahananya, dapat  ditentukan bahwa situs berlatar belakang agama Hindu.

Pada  masa Indonesia kuno, candi dikenal sebagai tempat pemujaan, temapat  raja/penguasa yang telah meninggal dimanifestasikan sebagai arca  perwujudan yang sekaligus dijadikan sarana pemujaan masyarakat  pendukungnya.

Artinya tempat tersebut selain berfungsi sebagai tempat pemujaan juga sebagai tempat penyimpanan abu jenazah raja/penguasa.

Fungsi  candi persinggahan itu cukup menonjol mengingat berbagai sumber  menyebutkan peran Candi Boyolangu sebagai tempat keramat yang di sekar  para pembesar Majapahit setiap bulan Badrapada.

Di  bagian selatan Candi Boyolangu ini, seolah-olah melingkarinya, terdapat  situs-situs lain yang berada di perbukitan. Bermula dari Gua Tritis di  sebelah Barat Daya, terus ke Tenggara adalah situs-situs Goa  Selomangkleng, Candi Dadi dan Goa Pasir. Jarak antara Boyolangu dan  masing-masing situs berkisar antara 2 – 4 km.

Link: http://tulungagung.go.id/index.php/potensi-daerah/obyek-wisata/401-candi-boyolangu

Situs Karsyan Goa Pasir

Posted: April 23, 2011 in Wisata

Bagi  warga Masyarakat Tulungagung siapa yang belum mengenal Goa Pasir, Goa  yang terletak di Dukuh Pasir Desa Junjung Kecamatan Sumbergempol atau  tepatnya di sisi utara pegunungan kapur selatan (Gunung Podo) ini  ternyata banyak menyimpan berbagai benda purbakala (Patung, berbagai  pahatan/relief yang ada di antara bebatuan, makam kuno dan goa) yang  dapat dijadikan obyek wisata sejarah maupun cagar budaya.

Dari  Buku yang berjudul TABUTA (Tapak Budaya Tulungagung) karangan Drs. M Dwi  Cahyono, M.Hum dijelaskan bahwa Goa Pasir atau yang dinamakan Situs  Karsyan Goa Pasir yang terletak di Desa Junjung Kecamatan Sumbergempol  berbentuk bangun landam kuda serta tinggalan arkeologi yang berupa goa  pertapaan yang berisi banyak relief (goa I) dengan ukuran goa 260 x 175  cm dan kedalaman 218 cm dengan ketinggian 200M di atas permukaan tanah  tanpa disertai dengan tangga batu. Dan goa II yang tidak ber-relief  dengan posisi tebing bawah dengan keadaan mulut lebih besar dari goa I  berukuran 305 x 255 x 190 cm dan kedalaman 255 cm posisi goa menghadap  ke barat.

Dalam buku TABUTA juga dijelaskan bahwa sesuai dengan sebutannya yaitu [I]“Situs Goa Pasir“[/I] dan fungsinya sebagai karsyan maka kedua Goa tersebut waktu itu  difungsikan sebagai pertapaan. Hal tersebut didukung dengan banyaknya  temuan lain yang tersebar di area goa serta sebagian yang tertimbun  tanah, hal ini selaras dengan esoteris dari Hindu sekte Siwa Shidanta  yang lazim di jalankan di lingkungan karsyan yang sifatnya tertutup.

Temuan  lain di situs Goa Pasir berupa sisa struktur bangunan, berbangun bujur  sangkar dengan ukuran sisi 700 cm berupa tatanan batu bata yang semula  diperkirakan sebagai pondasi suatu asrama (rumah tinggal semi permanen  bagi para Resi) dan hingga kini yang tersisa dari bangunan ini adalah  bagian bangunan yang tampak di permukaan tanah yang berada di sisi  selatan dan barat.

Selain  itu di area situs juga terdapat arca-arca lepas batu adesit, sedangkan  arca yang tersisa berupa dua buah arca penjaga pintu (dwara pala)  berbeda ukuran dan detail bentuknya, fragmen arca Ganesha (Putra kedua  dari Dewa siwa dan parwati/uma) peninggalan kerajaan Majapahit dan ini  di indikatori berupa pahatan teratai yang tumbuh dari vas bunga yang  dipahat pada sandaran kanan kiri kaki arca.

Berdasarkan  catatan penelitian N.J. Krom dan Verbeek di situs Goa pasir pernah  ditemukan arca batu yang sandarannya dipahatkan konogram saka 1325 (1403  M) dan 1224 S (1302 M) tahun 1302-1403 M yang berarti dari masa  Majapahit, juga pernah ditemukan kronogram yang bertarikh Saka 1228  (1306 M), menunjuk pada zaman Majapahit oleh karena itu situs Karsyan  Goa pasir diperkirakan sebuah peninggalan zaman Majapahit. (Nug/Humas)

Link: http://tulungagung.go.id/index.php/potensi-daerah/obyek-wisata/400-situs-karsyan-goa-pasir

Reog Tulungagung

Posted: April 23, 2011 in Seni dan Kerajinan

Reog Tulungagung merupakan gubahan tari rakyat, menggambarkan arak-arakan prajurit Kedhirilaya tatkala mengiringi pengantin “Ratu Kilisuci“ ke Gunung Kelud, untuk menyaksikan dari dekat hasil pekerjaan Jathasura, sudahkah memenuhi persyaratan pasang-girinya atau belum. Dalam gubahan Tari Reog ini barisan prajurit yang berarak diwakili oleh enam orang penari.

Yang ingin dikisahkan dalam tarian tersebut ialah, betapa sulit perjalanan yang harus mereka tempuh, betapa berat beban perbekalan yang mereka bawa, sampai terbungkuk-bungkuk, terseok-seok, menuruni lembah-lembah yang curam, menaiki gunung-gunung, bagaimana mereka mengelilingi kawah seraya melihat melongok-longok ke dalam, kepanikan mereka, ketika “Sang Puteri“ terjatuh masuk kawah, disusul kemudian dengan pelemparan batu dan tanah yang mengurug kawah tersebut, sehingga Jathasura yang terjun menolong “Sang Puteri“ tewas terkubur dalam kawah, akhirnya kegembiraan oleh kemenangan yang mereka capai.

Semua adegan itu mereka lakukan melalui simbol-simbol gerak tari yang ekspresif mempesona, yang banyak menggunakan langkah-langkah kaki yang serempak dalam berbagai variasi, gerakan-gerakan lambung badan, pundak, leher dan kepala, disertai mimik yang serius, sedang kedua tangannya sibuk mengerjakan dhogdhog atau tamtam yang mereka gendong dengan mengikatnya dengan sampur yang menyilang melalui pundak kanan. Tangan kiri menahan dhogdhog, tangan kanannya memukul-mukul dhogdhog tersebut membuat irama yang dikehendaki, meningkahi gerak tari dalam tempo kadang-kadang cepat, kadang-kadang lambat. Demikian kaya simbol-simbol yang mereka ungkapkan lewat tari mereka yang penuh dengan ragam variasi, dalam iringan gamelan yang monoton magis, dengan lengkingan selompretnya yang membawakan melodi terus-menerus tanpa putus, benar-benar memukau penonton, seakan-akan berada di bawah hipnose.

Busana penari adalah busana keprajuritan menurut fantasi mereka dari unit reog yang bersangkutan. Di Tulungagung dan sekitar, bahkan sampai di luar daerah Kabupaten Tulungagung, sekarang sudah banyak bersebaran unit-unit reog sejenis, dan mereka memiliki seleranya masing-masing dalam memilih warna. Unit-unit yang terdiri dari golongan muda usia, biasanya memilih warna yang menyala, merah misalnya.

Sebuah unit reog dari desa Gendhingan, Kecamatan Kedhungwaru, Kabupaten Tulungagung, beranggotakan orang-orang dewasa, bahkan tua-tua. Mungkin karena kedewasaannya itu mereka sengaja memilih warna hitam sebagai latar dasar busananya, sedang atribut-atributnya berwarna cerah. Busana itu terdiri atas:

[#]Baju hitam berlengan panjang, bagian      belakang kowakan untuk keris. Sepanjang lengan baju diberi berseret merah      atau kuning, juga di pergelangan.[/#]
[#]Celana hitam, sempit, sampai di bawah      lutut. Di samping juga diberi berseret merah memanjang dari atas ke bawah.[/#]
[#]Kain batik panjang melilit di pinggang,      bagian depan menjulai ke bawah. Sebagai ikat pinggang digunakan setagen,      kemudian dihias dengan sampur berwarna.[/#]
[#]Ikat kepala berwarna hitam juga, diberi      iker-iker (pinggiran topi) tetapi berbentuk silinder panjang bergaris      tengah 3 cm, dililitkan melingkari kepala. Warnanya merah dan putih.[/#]
[#]Atribut-atribut yang dipakai:
[*]kacamata       gelap atau terang;[/*]
[*]sumping       di telinga kanan dan kiri;[/*]
[*]epolet di atas pundak, dengan diberi       hiasan rumbai-rumbai dari benang perak;[/*]
[*]sampur       untuk selendang guna menggendong dhogdhog;[/*]
[*]kaos       kaki panjang.[/#]
[/#]

Busana yang dikenakan oleh unit reog dari golongan muda usia, tidak jauh berbeda, hanya warna mereka pilih yang menyala, disamping hiasan-hiasan lain yang dianggap perlu untuk “memperindah“ penampilan, misalnya rumbai-rumbai yang dipasang melingkar pada iker-iker. Dalam pada itu pada kaki kiri dipasang gongseng, yaitu gelang kaki yang bergiring-giring. Tentang gamelan yang mengiringi dapat dituturkan sebagai berikut. Keenam instrumen dhogdhog, sebangsa kendhang atau ketipung, tetapi kulitnya hanya sebelah, yang ditabuh oleh penarinya sendiri, terbagi menurut fungsinya: dhogdhog kerep, dhogdhog arang, timbang-timbangan atau imbalan, keplak, trentheng dan sebuah lagi dipukul dengan tongkat kecil disebut trunthong. Di luar formasi ini ditambah dengan tiga orang pemain tambahan sebagai pemukul kenong, pemukul kempul, dan peniup selompret. Kenong dan kempul secara bergantian menciptakan kejelasan ritma, dan selompret membuat melodi lagu-lagu yang memperjelas pergantian-pergantian ragam gerak.

Berbeda dengan Reog Tulunggung yang ada di desa Gendhingan, pada reog sejenis di desa Ngulanwentah, Kabupaten Trenggalek, si penabuh kenong tidak mengambil tempat kumpul bersama kedua rekannya penabuh, melainkan ikut di arena, walaupun tidak menari, hanya mondar-mandir, atau berjalan keliling, atau menyelinap di antara keenam penrinya, sembari memukul kenong yang diayunkan ke depan dan ke belakang. Ia pun mengenakan busana serupa dengan busana penari, hanya dengan warna lain, dan tanpa iker-iker pada ikat kepalanya.

Lagu-lagu pengiringnya dipilih yang populer di kalangan rakyat, misalnya Gandariya, Angleng, Loro-loro, Pring-Padhapring, Ijo-ijo, dan lain-lain. Terdapat kecenderungan pada reog angkatan tua, (khususnya yang ada di desa Gendhingan), untuk menggunakan irama lambat dan penuh perasaan, yang oleh angkatan mudanya agaknya kurang disukai. Mereka, angkatan muda ini, lebih senang menggunakan irama yang “hot”, sesuai dengan gejolak jiwanya yang “dinamik”. Dalam hal ini AM Munardi menuliskan tanggapannya sebagai berikut:

Legendanya tarian itu mengiring temanten. Memang peristiwa ritual kita pada masa lampau tidak terlepas dari existensi tari. Sampai sekarang Reog Kendhang (= Reog Tulungagung, S.Tm.) juga sering ditampilkan orang dalam kerangka pesta perkawinan atau khitanan.

Dalam perkembangan akhir-akhir ini kemudian dipertunjukkan dalam pawai-pawai besar untuk memeriahkan hari-hari besar nasional. Untuk kepentingan yang akhir inilah kemudian orang membuat penampilan tari Reog Kendhang identik dengan “drum-band”. Maka gerak-gerik yang semula dirasa refined dan halus, cenderung dibuat lebih keras dan cepat. Derap-derap genderang ditirukan dengan pukulan-pukulan dhogdhog. Terompet bambu-kayu semacam sroten itu pun ditiup dengan lagu-lagu baru. Akibatnya musik diatonis itu pun dipaksakan dalam nada-nada pelog pentatonis.

Dalam timbre yang tak mungkin berkualitas sebuah drum-band modern, maka cara seperti itu menjadi berkesan dangkal. Pada suatu kesempatan menonton pertunjukan Reog Kendhang di Desa Gendhingan, Kecamatan Kedhungwaru, Tulungagung, maka terasa benarlah bahwa proses penampilan Reog Kendhang yang pada umumnya dipopulerkan oleh para remaja itu cenderung menuju pendangkalan.

Penampilan oleh para penari golongan tua di desa tersebut terasa benar bobotnya. Geraknya yang serba tidak tergesa-gesa lebih memperjelas pola tari yang sesungguhnya cukup [I]refined[/I]. Kekayaan pola lantainya terasa benar menyatu dengan lingkungan.

Memperbandingkan Reog Kendhang di Gendhingan ini dengan Reog Kendhang para remaja pada umumnya menjadi semakin jelas adanya keinginan untuk tampilnya garapan-garapan baru, tetapi tidak dimulai dengan pendasaran yang kokoh. Ya, kadang-kadang orang terlalu cepat mengidentikkan arti “dinamika” dengan gerak yang serba keras dan cepat.

Seperti halnya dengan rekannya Reog Dhadhakmerak di Ponorogo, maka sebagai tontonan rakyat, Reog Tulungagung (Reog Kendhang) pun tidak akan kehilangan peranannya sebagai penghibur atau pemeriah suasana di mana saja warga desa mempunyai hajat. Perkawinan, khitanan, kelahiran, tingkeban, bersih desa, musim panen, dan lain sebagainya. Mungkin sekarang tidak selaris dulu, sebelum musik pop berirama dangdut merajai pasaran dimana-mana Namun, pada hajat-hajat yang masih ada hubungannya dengan kepercayaan yang bersifat sakral atau yang masih mempunyai sifat-sifat tradisional, kesenian reog masih diperlukan.

Dalam perarakan pengantin misalnya, maka fungsi Reog Kendhang tidak saja sebagai pengiring yang memeriahkan suasana atau sekedar manghibur semata-mata, melainkan bahkan pun sebagai penjaga keselamatan mempelai laki-laki yang diarak. Mungkin ini sisa-sisa kepercayaan legendarik, bahwa reog dulunya merupakan sepasukan prajurit Kedhirilaya yang bertugas menjaga keselamatan sang pengantin “Ratu Kilisuci”. Kepercayaan itu menjadi naluri yang masih terus dipelihara, walaupun tinggal sepercik upacara simbolik belaka, atau hanya tiru-tiru. Tetapi yang jelas, apakah itu upacara atau pun tiru-tiru, tiap-tiap hajat selalu mengharapkan keselamatan, dalam hal ini terutama keselamatan perkawinan kedua mempelai tentunya. Jadi Reog berfungsi sebagai penolak bala, begitulah kira-kira.

Link : http://tulungagung.go.id/index.php/potensi-daerah/kesenian/413-reog-tulungagung